Geser kebawah untuk membaca artikel!

Pengertian wayang beserta jenis-jenisnya dan contoh cerita wayang

Advertisement

loading...
Sering kita tahu, wayang adalah peninggalan nenek moyang yang masih tenar sampai saat ini, wayang memiliki jenis yang banyak dan mungkin dari setiap jenisnya memiliki konsep yang berbeda beda, wayang di gunakan untuk menceritakan sebuah kejadian atau cerita dari sebuah kejadian di masa lalu atau di sebut dengan legenda, untuk lebih jelasnya saya akan membuat artikel tentang wayang.

Pengertian Wayang

Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan ini juga populer di beberapa daerah seperti Sumatera dan Semenanjung Malaya juga memiliki beberapa budaya wayang yang terpengaruh oleh kebudayaan Jawa dan Hindu.
Dalang yaitu sisi terutama dalam pertunjukan wayang kulit (wayang purwa). Dalam terminologi bhs jawa, dalang (halang) datang dari akronim ngudhal Piwulang. Ngudhal berarti membongkar atau menebar luaskan serta piwulang berarti ajaran, pendidikan, pengetahuan, info. Jadi kehadiran dalang dalam pertunjukan wayang kulit bukanlah saja pada segi tontonan (hiburan) semata, namun juga tuntunan. Oleh karenanya, disamping kuasai tehnik pedalangan juga sebagai segi hiburan, dalang sebaiknya seseorang yang berpengetahuan luas serta dapat memberi dampak.



Jenis Wayang Yang Ada di Indonesia

1. Wayang beber


Wayang beber adalah salah satu type wayang tertua di Indonesia. Dalam pertunjukan cerita ini, lembaran gambar panjang diterangkan oleh seseorang dalang. Wayang papar tertua bisa diketemukan di Pacitan, Donorojo, Jawa Timur. Terkecuali dari kisah-kisah Mahabharata serta Ramayana, wayang papar juga memakai kisah-kisah dari narasi rakyat, seperti cerita asmara Panji Asmoro Bangun serta Dewi Sekartaji.

2. Wayang kulit

Di Jawa Tengah serta Timur, type wayang yang paling popular yaitu wayang kulit atau wayang kulit purwa. Wayang ini berupa pipih serta terbuat dari kulit kerbau atau kambing. Lengan serta kakinya dapat digerakkan. Di Bali serta Jawa, pertunjukan wayang kulit kerapkali memadukan cerita-cerita Hindu dengan Budha serta Islam. Terkecuali kisah-kisah religius, cerita-cerita rakyat dan mitos kerap dipakai.

3. Wayang Klitik (atau Karucil)

Bentuk wayang ini serupa dengan wayang kulit, tetapi terbuat dari kayu, bukanlah kulit. Mereka juga memakai bayangan dalam pertunjukannya. Kata “klitik” datang dari nada kayu yang bersentuhan di waktu wayang digerakkan atau waktu adegan perkelahian, umpamanya. Kisah-kisah yang dipakai dalam drama wayang ini datang dari kerajaan-kerajaan Jawa Timur, seperti Kerajaan Jenggala, Kediri, serta Majapahit. Narasi yang paling popular yaitu perihal Damarwulan. Narasi ini dipenuhi dengan cerita perseturan asmara serta sangatlah disukai oleh umum.

4. Wayang golek

Pertunjukan ini dikerjakan memakai wayang tiga dimensi yang terbuat dari kayu. Type wayang ini paling popular di Jawa Barat. Ada 2 jenis wayang golek, yakni wayang golek papak cepak serta wayang golek purwa. Wayang golek yang banyak di kenal orang yaitu wayang golek purwa. Kisah-kisah yang dipakai kerap merujuk pada kebiasaan Jawa serta Islam, seperti cerita Pangeran Panji, Darmawulan, serta Amir Hamzah, pamannya Nabi Muhammad a. s.

5. Wayang wong


Type wayang ini yaitu suatu drama tari yang memakai manusia untuk memainkan peran tokoh-tokoh yang didasarkan pada kisah-kisah wayang tradisional. Narasi yang kerap dipakai yaitu Smaradahana. Awalannya, wayang wong ditampilkan juga sebagai hiburan beberapa bangsawan, tetapi saat ini menebar jadi bentuk kesenian popular.

Wilayah di Indonesia Yang Mengembangkan Wayang

Sebagian seni budaya wayang terkecuali memakai bhs Jawa, bhs Sunda, serta bahasa Bali juga ada yang memakai bahasa Melayu lokal seperti bahasa Betawi, bahasa Palembang, serta bahasa Banjar. Sebagian salah satunya diantaranya :


  • Wayang Surakarta 
  • Wayang Jawa Timur 
  • Wayang Bali 
  • Wayang Sasak (NTB) 
  • Wayang Kulit Banjar (Kalimantan Selatan) 
  • Wayang Palembang (Sumatera Selatan) 
  • Wayang Betawi (Jakarta) 
  • Wayang Cirebon (Jawa Barat) 
  • Wayang Madura (telah punah)


Raden Sucitra asal dari Atasangin (seberang), datang ke negeri Cempalareja. Pada waktu raja Cempalareja, Prabu Gandabayu mengadakan perlombaan adu tenaga melawan Gandamana dengan perjanjian siapa yang mengalahkan Gandamana, akan mendapat putri Prabu Gandabayu bernama Dewi Gandawati, masuklah Raden Sucitra ke gelanggang itu.

Perang tanding adu tenaga itu sangat ramai. Setelah Sucitra hampir akan kalah oleh Gandamana, Pandu datang membantu dengan kesaktiannya hingga Gandamana dapat dikalahkan.
Sucitra mendapat puteri yang dijanjikan itu dan ia diangkat sebagai raja muda di Cempalareja, bernama Prabu Anom Drupada. Kemudian ia bertahta sebagai- raja di Cempalareja.
Raden Sucitra bermata kedondongan, hidung dan mulut sembada, berkumis. Sanggul gembel, berjamang dengan garuda membelakang, sunting sekar kluwih. berkalung bulan sabit atau disebut kalung putran (kesatria), bergelang dan berpontoh, memakai kain kerajaan lengkap. Setelah diangkat sebagai raja di Cempalareja, muka agak tenang bercat hitam. Bergelung keling, berjamang dengan garuda membelakang, sunting sekar kluwih. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kalung ulur-ulur (kalung panjang). Berkain bokongan kerajaan lengkap.
Prabu Drupada (Sucitra) tinggal menetap di tanah Jawa, sebagai raja di Cempalareja, ia terpandang seorang asli dari tanah Jawa jua. Selanjutnya keturunan Prabu Drupada itu bercampur dengan keturunan Pandawa, sebab puteri Drupada yang tertua, Dewi Drupadi dipermaisuri oleh Prabu Yudistira dan puteri yang kedua, Dewi Wara Srikandi, diperisterikan oleh Arjuna.Oleh karena bersambungan kerabat ini, maka Prabu Drupada terhitung memihak Pandawa, dan dalam perang Baratayudha berkorbanlah Raja ini dengan kerabatnya pada pihak Pandawa.
Keturunan Prabu Drupada dari Yudistira bernama Raden Pancawala, kesatria pahlawan dalam perang Baratayudha. Putera yang seorang lagi puteri bernama Dewi Wara Srikandi, tersebut di atas.
Dewi Wara Srikandi kawin dengan Arjuna dengan jujur perbaikan taman Maerakaca yang telah rusak, dalam waktu semalaman selesai. Hal ini telah terkabul.
Prabu Drupada pada suatu masa terima pinangan. Prabu Jungkungmardea, seorang’ raja di Paranggubarja pada puterinya, Dewi Wara Srikandi. Lantaran Prabu itu seorang raja yang mulia, tergiurlah Prabu Drupada akan, menantukan Raja itu. Tetapi setelah Dewi Srikandi mengerti kehendak ramandanya itu, pergilah ia kepada Raden. Arjuna, minta dibelanya, maka dengan Prabu Jungkungmardea, peranglah Arjuna dan Prabu Jungkungmardea telah tewas oleh Arjuna.
Pembela Raden Arjuna kepada Dewi Srikandi, dapat juga disebut lantaran : Sedumuk batuk. Memang zaman itu (purwa), Kesatria berebut seorang puteri, jadi suatu kemuliaan, dapat nama baik. Tetapi perbuatan yang sedemikian ini bukan perbuatan hina, sebab dengan bertaruh jiwa.

Nah itu adalah artikel mengenai wayang yang saya buat untuk kalian semua, mungkin dapat membantu kalian sebagai pembelajaran bersama, mungkin cukup sekian yang dapat saya sampaikan bila ada kata atau huruf yang salah ejah mohon di maafkan, atau bila ada yang kurang mengerti bisa coret coret di komentar.

Advertisement

loading...

Artikel Terkait:

Silahkan download dan lihat video pembahasan yang lebih mudah!

search