Kumpulan Naskah Drama Singkat 5 Orang Terbaru Februari 2016

Advertisement

Naskah Drama merupakan percakapan yang nantinya akan di peragakan oleh aktor atau pemain dengan berbagai macam bantuan properti yang mungkin akan di butuhkan disaat beberapa orang akan membuat sebuah drana singkat ataupun sebuah drama yang berlangsung selama berjam-jam. Saya pada kali ini akan membagikan beberapa naskah drama yang khusu di mainkan oleh 5 orang pemain saja dengan cerita yang singkat tetapi banyak nilai nilai pendidikan dan juga dengan properti yang dapat kalian dapatkan di sekitar kita.

Drama biasanya terjadi di sebuah pertunjukan besar. Tetapi, tidak banyak di sekolah sekolah yang melakukan pelatihan atau tugas yang berkaitan dengan drama seperti ini. Biasanya Bahasa Indonesia menjadi salah satu pelajaran yang sering menyuruh muridnya membuat sebuah drama kecil dengan di perankan oleh beberapa muridnya yang masih sedang dalam keadaan belajar. Langsung saja saya pada saat ini akan membagikan naskah drama yang mungkin bisa menjadi pilihan kalian semua yang sedang mampir untuk mencari sebuah bahan untuk drama kalian di suatu pertunjukan ataupun di sekolah dengan tugas seperti ini.

Drama Singkat 5 Orang Tema Persahabatan

Judul: Arti Seorang Sahabat

Pada suatu hari, Mimi mendapati Ami sedang terlihat sangat gelisan. Mimi tertanya-tanya dalam hatinya, ada apa gerangan dengan si Ami. Tak ingin menyaksikan Ami terus menampilkan raut yang menyedihkan, maka Mimi langsung mencari tahu permasalahannya.

Mimi:
Ami, kamu kenapa? kok wajahmu terlihat sangat gelisah sekali? kamu ada masalah apa?

Ami:
Nggak kok, aku nggak ada apa-apa. Aku cuman nggak cukup tidur aja, makanya mukaku terlihat pucat.

Mimi:
Masalahnya, muka kamu nggak cuman terlihat  pucat, tapi kamu seperti orang yang sedang kebingungan.

Ami pun berusaha mengelak.

Ami:
Ah kamu bisa aja sih! aku nggak kenapa-kenapa kok. Bener aku cuman nggak cukup tidur aja.

Mimi pun terdiam, dan tidak lama kemudian datanglah Linda.

Linda:
Hai, kalian lagi pada ngapain disini? Oww... kamu kenapa, Ami? kok kamu kelihatan pucat amat?

Mimi:
Nah, benar kan, kalau kamu tuh terlihat nggak kayak biasanya. Udahlah, kamu ngomgong aja, ada apa sebenarnya?

Linda:
Iya Ami, kita ini kan sahabat. Kalau kamu ada masalah, coba cerita ke kami berdua. Kami pasti akan berusaha untuk membantu.

Ami tetap berusaha menutupi masalah yang dihadapinya, karena tidak ingin merepotkan kedua temannuya itu.

Ami:
Udahlah, aku nggak kenapa-kenapa kok. Kan tadi aku udah bilang, aku nggak cukup tidur.

Linda dan Mimi pun hanya bisa terdiam, dan 5 menit kemudian datanglah Jovan dan Dion.

Mimi:
Hi, guys.. kalian pada darimana?

Jovan:
Emm.. kami abis main daru rumah tante aku.

Dion:
Iya, tadi aku sama Jovan main sebentar kerumah tante si Jovan.

Linda:
Oh.. emang kalian pada ngapain disana?

Jovan:
Nggak papa, cuman silaturrahim aja, cuz udah lama nggak kesana.

Linda:
Oh.. gitu, baguslah!

Sama seperti Linda dan Mimi, Jovan dan Dion pun langsung menanyakan sesuatu kepada Ami yang dilihatnya tidak seperti biasanya.

Jovan:
Eh.. Ami, kamu kenapa?

Ami:
Aku kenapa emang?

Dion:
Yah.. kamu, orang ditanya bener-bener malah jawabnya gitu lagi!

Linda:
Nggak tahu si Ami nih.. aku yakin dia pasti lagi ada masalah, tapi nggak tahu kenapa dia nggak mau ngomong, padahal kita nih kan sahabat. Jadi gimana gitu kalau ada seorang sahabat yang nggak terbuka gini.

Mendengar ucapan Linda, Ami pun akhirnya tak kuasa untuk menutupi apa yang sedang dihadapinya.

Ami:
Sebenarnya aku nggak mau ngomong masalah aku, karena aku nggak mau kalian ikut terlibat dalam masalah aku, tapi karena kalian memaksa aku untuk ngomong, maka aku nggak punya pilihan.

Mimi:
Iya, nggap apa-apa, kamu ngomong aja!

Ami:
Aku akan berhenti sekolah.

Jovan:
Ha... berhenti sekolah? maksud kamu apaan?

Dion:
Iya, maksud kamu berhenti gimana, Ami?

Ami:
Aku nggak bisa menambah beban orangtuaku. Mereka bekerja siang-malam demi bisa menyekolahkan aku. Pas aku lihat ibuku sakit semalam, aku nggak mungkin lagi bergantung pada ibuku.

Keempat sahabat Ami pun terdiam sambil memikirkan jalan terbaik untuk Ami. Jovan kemudian memberikan usulan untuk Ami

Jovan:
Ok Ami, gimana kalau aku coba tanyakan ke tante aku barangkali dia butuh karyawan part time.

Dion:
Iya, tante kamu kan punya supermarket.

Linda:
Kyaknya itu ide bagus deh. Kalau tante Jovan emang butuh karyawan part time, kamu kan bisa simpan uang kamu untuk biaya sekolah. Kamu mau kan, Ami?

Ami menerima penawaran Jovan.

Ami:
Baiklah kalau begitu, aku pasti mau kalau tante Jovan emang butuh karyawan part time.

Jovan:
Sip! kamu tenang aja, aku yakin tanteku butuh karyawan tambahan soalnya pas aku maen kesana kemarin ada salah satu karyawannya yang keluar.

Teman-teman Ami akhirnya dengan semeringah melihat Ami kembali bisa tersenyum. Ami pun akhirnya diterima bekerja di supermarket tantenya Jovan, dan dia tidak jadi keluar sekolah.

Di suatu meja yang berada di suatu kelas. Di suatu kelas yang berada di sekolah. Di seuatu sekolah yang entah ada atau tidaknya. Hiduplah 4 orang murid yang sedang senang-senangnya, tapi semua itu berubah saat ulangan akan datang.

Drama Anekdot 5 Orang Tema Anak Sekolah

Judul : Ulangan Sekolah

Renata : “ Eh. Kalian udah ngapalin buat ulangan besok? “ ( Datang )
Rio      : “ Belum “
Renal   : “ Innalillahi “
Renata : “ What the hell, Oh my God. Kalau nilai ulangannya jelek, nanti dihukum “
Renal   : “ Paling hukumannya lari di lapangan “
Renata : “ Bukan. Hukumannya pelajaran tambahan setiap pulang sekolah “
Renal   : “ Innalillahi “
Rio      : “ Aku cek dulu, siapa tahu guru “ ( Pergi )
Renal   : “ Ngapaling bab yang mana a- “
Rio      : “ Ada guru “ ( Dateng ) ( Semua melihat ke pintu )
Ririn    : “ Loh. Kok sepi? “ ( Datang )
Renal : “ Huuu. Katanya ada guru “ ( Nepuk bahu Rio )
Rio      : “ Iya ini guru. Guru masa depan “
Ririn    : “ Kamu bisa aja “
Renata : “ Kamu udah ngapalin Rin? “
Ririn    : “ Udah dong. Ririn “
Rio      : “ Ellleh. Sombong amet “
Ririn    : “ Biarin “
Renata : “ Udah-udah jangan berantem “
Renal   : “ Iya, daripada berantem mendingan gini, siapa yang nilainya paling gede, Dia yang menang, dan yang menang bisa nyuruh 1 kali kepada yag kalah “
Ririn + Rio : “ Setuju! “
( Asep datang dari belakang ) Asep : “ Bapa juga setuju! “

Ririn dan Rio semakin mempersiapkan ulangannya matang-matang. Ririn melakukan gerakan 3B yaitu Belajar, Ber’doa, dan Berusaha yang sudah biasa dilakukan. Sedangkan Rio merangkum semua bab dan menulisnya di kertas kecil untuk nanti dihapal saat ulangan dengan kata lain nyontek. Akhirnya saat ulanganpun tiba.

Asep    : “ Baiklah anak-anak, buka lembar soalnya se-se-sekarang “
Ririn    : “ Bismillah “ ( Membuka dan mengisi soal)
Rio      : “ Inimah enteng “ ( Membuka soal ) ( Saat Asep berbalik menempelkan kertas di punggung Asep untuk menyontek )
Rio      : “ Kalo ginikan ga akan ketahuan “ ( Ngisi )
Asep    : “ Bapa keluar dulu, jangan nyontek, jangan kerja sama, dan jangan ribut “ ( Keluar )
Rio      : “ Rencana B “ ( Nyilang kaki dan di alas sepatunya ada contekan )
Rio      : “ Ah. Bukan yang ini “ ( Buka baju penghabus di dalamnya ada contekan “
Rio      : “ Ah yang ini “ ( Nulis ) ( Ngeluarin contekan dari dasi )
Rio      : “ Ah yang ini juga “ ( Nulis )
Rio      : “ Selesai “ ( Liat Ririn dan yang lainnya masih belum selesai )

Akhirnya ulangan selesai dan beberapa hari kemudian Asep membagikan hasil ulangan.

Asep    : “ Ini “ ( Membagikan )
Ririn    : “ Ye. Nilaiku 85 “
Renal   : “ Hahaha. Aku ding 65, naik 5 dari ulangan yang lalu “
Rio      : “ Lah. Pak, kok nilai Saya 50? “
Asep    : “ Itu karena soal nomor 11-20 di balik kertas ga kamu isi “
Rio      : “ Aduh. Kok bapa ga kasih tahu Saya? “
Asep    : “ Kamu itu seharusnya bisa tahu dengan sendirinya, jangan ceroboh “
Renata : “ Siap-siap terima perintah Ririn aja “
Rio      : “ Iya deh iya “
Ririn    : “ Dengan ini Saya nyatakan Kamu tidak boleh nyontek lagi “
Asep    : “ Jadi Kamu nyontek?. Nilai Kamu bapa kurangi 6, jadi nilai Kamu -1 “ ( Mukul kepala Rio )


Akhirnya Rio tidak menggunakan cara yang yang kotor lagi. Dia menjadi lebih giat belajar dan lebih berhati-hati dalam mengisi soal.

Naskah Drama Singkat 5 Orang

Judul : Murid Baru
Pagi ini merupakan pagi yang sangat cerah. Jenita dan Joni, dua orang siswa kelas VII sedang asyik membaca-baca buku Biologi diperpus sekolah. Pasalnya nanti siang akan ada ulangan harian mata pelajaran tersebut. Kemudian datang Anggiya, sahabat mereka.

Anggiya: “Mit, Don, rajin sekali kalian berdua!”

Jenita: “Iya dong, tugas kita sebagai pelajar kan memang harus belajar. Hehehe…”

Anggiya: “Iya juga sih. Eh ngomong-ngomong kalian tahu tidak, ada murid baru yang akan masuk ke kelas kita hari ini.”

Joni: “Oh ya, siapa namanya? Lelaki atau perempuan?”

Anggiya: “Lelaki, tapi aku juga belum tahu siapa namanya dan seperti apa rupanya.”

[Bel sekolah berbunyi]

Jenita: “Eh ayo masuk kelas!”

[Ketiganya memasuki ruang kelas. Bu Guru masuk bersama seorang murid baru.]

Bu Guru: “Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita kedatangan teman baru dari Aceh, ia akan menjadi teman sekelas kalian. Silakan perkenalkan dirimu, nak!”
Idwan

Idwan: “Selamat pagi, teman-teman. Nama saya Muhammad Idwan. Saya berasal dari Aceh.”

Jenita [berbisik pada Anggiya]: “Jauh sekali ya, dari Aceh pindah ke Bandung!”
[Anggiya hanya mengangguk tanda setuju]

Bu Guru: “Idwan, kamu duduk di belakang Joni ya [menunjuk sebuah meja kosong]. Untuk sementara kamu duduk sendiri dahulu karena jumlah siswa di kelas ini ganjil.”

[Idwan segera duduk di kursi yang disediakan]

Bu Guru: “Ya baiklah, sekarang kita mulai pelajaran hari ini. Buka buku kalian di halaman 48….”

[Pelajaran pun dimulai]

Tiba saatnya jam istirahat. Idwan, yang belum memiliki teman, diam saja duduk di kursinya sambil menunduk. Rupanya belum ada yang mau mendekati Idwan. Semua siswa di kelas itu masih sungkan dan hanya mau tersenyum saja padanya tanpa berani mengajak ngobrol lebih lanjut.

Joni: “Psst, Mit, Nggi, coba lihat anak baru itu, sendirian saja ya!” [berbisik pada Jenita dan Anggiya saat mereka baru kembali dari kantin]

Jenita: “Ayo kita dekati saja.” [Ketiganya menghampiri Idwan]

Anggiya: “Hei, Idwan. Kenalkan, aku Anggiya, ini Idwan dan Jenita [menunjuk kedua temannya].”

[Ketiganya duduk di sekeliling Idwan]

Idwan: “Hai, salam kenal.”

Joni: “Kamu kok tidak jajan ke kantin?”

Idwan: “Aku… Aku bawa bekal makanan [pelan sekali, sambil tertunduk].”

Jenita: “Oh begitu, rajin sekali kamu, Wan!

[Keempat siswa ini mulai terlibat obrolan ringan sehingga Idwan merasa ditemani]

Saat jam pulang sekolah, Bu Guru memAnggiyal Anggiya dan Joni yang hendak pulang ke rumah.

Bu Guru: “Anggiya, Joni! Ke sini sebentar. Ibu mau menanyakan sesuatu.”

[Anggiya dan Joni menghampiri Bu Guru]

Joni: “Ada apa, Bu?”

Bu Guru: “Itu, bagaimana perilaku Idwan di kelas? Apakah ia bisa membaur?”

Joni: “Dia agak pendiam, Bu. Dan suka menunduk saat berbicara.”

Anggiya: “Tadi di jam istirahat, kami berdua dan Jenita berusaha mendekatinya. Kami mengobrol cukup lama, ia anak yang baik kok, hanya saja ia seperti agak kurang percaya diri dan muram.”

Bu Guru: “Hmm… begitu ya. Anak-anak, Idwan adalah salah satu korban selamat tragedi tsunami Aceh beberapa bulan yang lalu. Kedua orang tuanya tewas terhempas ombak. Kini hanya tinggal ia dan adik perempuannya, Annisa. Annisa masih duduk di kelas 4 SD, di SD V kota kita ini.”

Anggiya: “Ya Tuhan, sungguh berat cobaan yang menimpanya…”

Bu Guru: “Iya. Untungnya, seorang pamannya tinggal di Bandung sehingga ia dan adiknya tinggal di sini. Mereka tergolong masyarakat prasejahtera, sehingga Idwan benar-benar harus berhemat. Pamannya berkata pada Ibu tadi pagi, ia tak mampu memberi uang jajan yang cukup untuk Idwan sehingga Idwan harus bekal nasi setiap hari agar tidak lapar di sekolah.”

Joni: “Oh pantas saja tadi jam istirahat ia tidak ke kantin.”

Bu Guru: “Ya sudah, Ibu cuma mau bilang begitu. Kalian berbaik-baiklah dengannya. Temani dia agar tak merasa kesepian dan terus berduka.”
[Anggiya dan Joni pamit kemudian pulang]

Di rumahnya, Joni terus menerus memikirkan teman barunya, Idwan. Akhirnya ia mendapatkan suatu ide. Dikabarkannya Anggiya dan Jenita melalui SMS. Keesokan harinya di jam istirahat….

Joni: “Eh, kalian membawa apa yang aku bilang kemarin, kan?”

Jenita: “Bawa dong. Ayo kita dekati Idwan.”

Anggiya: “Idwan, bolehkah kami bertiga makan bersamamu?”

Idwan: [kikuk dan kebingungan] “Eh, um.. boleh saja..”

Joni, Anggiya, dan Jenita mengeluarkan bekal makanan mereka. Ketiganya juga membawa makanan camilan untuk dimakan bersama-sama, tentu saja Idwan juga kebagian. Dengan makan bersama setiap hari, mereka berharap bisa membuat Idwan lebih ceria. Setelah makan…

Idwan: “Terima kasih, teman-teman. Kalian sangat baik kepadaku.”

Jenita: “Kamu ini bicara apa, sih? Kita kan teman, wajar saja jika kita saling bersikap baik.”

Sejak saat itu Idwan menjadi semakin kuat karena mendapat dukungan dari teman-teman barunya. Siswa-siswi lain di kelas itu pun banyak yang bergabung membawa bekal untuk dimakan bersama-sama pada jam istirahat, dan suasana kian terasa menyenangkan.

Nah mungkin kalian sudah dapat memilih drama mana yang cocok untuk kalian gunakan di pentas kalian di sebuah pertunjukan atau di sebuah pembelajaran di sekolah yang mungkin akan sangat gugup bila kita masih pertama kali berperan dalam sebuah drama. Tetapi tidak usah di fikir kan seperti itu, kita hanya perlu berperan sebagaimana yang ada dalam sebuah Naskah Drama Anekdot dengan baik dan percaya diri karena itu adalah salah satu kunci kesuksesan yang paling baik di saat menjalankan sebuah drama dimana saja. Semoga artikel yang masih banyak kurangnya ini dapat membantu tugas kalian atau dapat menambah ilmu kalian semakin banyak lagi dan menjadi lebih berkah sampai kapan saja dan sampai kapan pun.

Advertisement

Artikel Terkait:

search